Powered By Blogger Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Online Marketing

Subscribe Now

Monday, February 7

PENALARAN INDUKTIF

Dibuat oleh Bayu 7 Februari 2011
Penalaran menurut wiki adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Penalaran sebagai sebuah kemampuan berpikir, memiliki dua ciri pokok, yakni logis dan analitis. Logis artinya bahwa proses berpikir ini dilandasi oleh logika tertentu, sedangkan analitis mengandung arti bahwa proses berpikir ini dilakukan dengan langkah-langkah teratur seperti yang dipersyaratkan oleh logika yang dipergunakannya. Dalam penalaran proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut premis dan hasil kesimpulannya disebut konkulusi.
 
Terdapat 2 jenis metode penalaran, Penalaran Induktif yang merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. dan Penalaran Deduktif yang merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Namun kali ini penulis akan berfokus pada penalaran Induktif saja.
Penalaran induktif adalah suatu proses berfikir berupa penarikan kesimpulan yang bersifat umum (berlaku untuk semua/ banyak) atas dasar pengetahuan tentang hal-hal khusus (fakta). Artinya dari fakta-fakta yang diperoleh kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Penalaran induktif dapat dilakukan secara terbatas dengan mencoba-coba. Sehingga dapat dikatakan bahwa penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
Menurut Suriasumantri (dalam Shofiah, 2007 :15) penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif adalah proses berfikir berupa penarikan kesimpulan yang bertolak dari hal-hal khusus menjadi hal – hal yang bersifat umum.

Jenis – jenis penalaran Induktif yaitu :
  1. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang menyimpulkan suatu fenomena secara umum berasal dari kejadian- kejadian tunggal atau dari sampel untuk menyimpulkan sifat suatu populasi.
Contoh :
Valentino Rossi menang  Moto GP menggunakan motor Yamaha.
Jorge Lorenzo menang Moto GP menggunakan motor Yamaha.
Kesimpulan: Setiap orang yang menggunakan motor Yamaha memenangkan Moto GP.

Nilai kebenaran pernyataan ini diragukan karena belum terbukti kemenangan dalam Moto GP disebabkan karena pengaruh motor Yamaha atau bukan.

Macam – macam generalisasi :

1.Generalisasi Sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan yang diselidiki.
Contoh :
Setelah melakukan survey terhadap seluruh anggota RW 12, kemudian didapatkan kesimpulan bahwa: Setiap anggota RW 12 sudah bisa membaca dan menulis. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu kemampuan membaca dan menulis, diselidiki terhadap semua populasi yang ada.

2.Generalisasi Tidak Sempurna
Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

Contoh :

Setelah kita melewati beberapa wlayah jalan di DKI Jakarta ternyata kondisinya berlubang dan macet, kemudian kita simpulkan bahwa kondisi jalan di DKI Jakarta adalah berlubang dan juga macet, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna.
Generalisasi tidak sempurna ini tidak menghasilkan kesimpulan sampai ke tingkat pasti sebagaimana generalisasi sempurna, tetapi corak generalisasi ini jauh lebih praktis dan lebih ekonomis dibandingkan dengan generalisasi sempurna.

Dari segi bentuknya generalisasi dibedakan menjadi 2, yaitu : loncatan induktif dan yang bukan loncatan induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45).

  1. Analogi
Penalaran Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogi dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.
Contoh:
Orang yang berdagang layaknya dengan memancing, pasti dibutuhkan kesabaran untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, untuk mendapatkan hasil pancing yang besar dibutuhkan umpan yang besar pula, begitu juga dengan berdagang, untuk mendapatkan hasil yang besar maka modal yang dibutuhkan juga harus besar juga.

Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut:
1) Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2) Analogi dilakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.
3) Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
Contoh :
Joko kursus di LPIA.
Joko mahir berbahasa Inggris.
Danu kursis di LPIA.
Oleh sebab itu Danu mahir berbahasa Inggris.

  1. Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hal ini terlihat ketika tombol ditekan yang akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagai berikut:
  1. Sebab akibat
    Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Di samping ini pola seperti ini juga dapat menyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
    Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang nyata.
     
  2. Akibat sebab
    Akibat sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. Jadi hampir mirip dengan entimen. Akan tetapi dalam penalaran jenis akibat sebab ini, Peristiwa sebab merupakan simpulan.
     
  3. Akibat-akibat
    Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu akibat yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut:
    Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek, ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan yaitu hari hujan.


Related Posts


0 Comments:

Post a Comment

Popular Posts This Months

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...